Hujan dan Kesendirian
Rinai
Hujaman tetes demi tetes air mata dari awan kelabu
Aku sendiri dan berdiam diri
Bau tanah bersamaan bangkitnya memoar lalu, bersamamu
Pada seragam yang basah kuyup
Aku lengah, mengapa tak ku liat binar matamu
Pada kamarmu yang sepi
Kamu katakan hujan itu menakutimu, mencabik kesepianmu
Sekolah menengah atas, kita sepakat
Kita adalah ruang kosong yang saling mengisi
Ruang kita yang penuh gema
Saling mengisi harmoni dengan berbagi empati
Tanpa diduga raga kita terpisah beratus kilometer
Kamu bilang menemukan buku, dan kamu terpana
Kemudian ku ceritakan keseharianku bersama bukumu
Kau pun demikian, seolah mengganti kebersamaan yang entah kemana
Waktu buat kita lupa, lantas sibuk
Sudah setengah dekade
Aku masih menulis bukumu selagi sempat dan ingat
Aku masih ingat kamu takut hujan, dan aku sekedar mengiyakan
*Puisi diatas sudah pernah di perlombakan dalam lomba cipta Puisi HKSN LKS-BMh, tema: Kesetiakawanan