Namanya Poetry
Layaknya pengkaburan netra
Si Poetry gemar menjadi bias
Berada ditengah perkara 'iya' dan 'tidak'
Kerap disamakan Ia dengan ambigu,
Ia cibir orang itu
Lantas matanya berbinar,
Kepada yang tabu akan dirinya
Ia sadar hidup ini asing
Lantas suatu kewajaran untuk akrab
Orang bilang kita makhluk istimewa
Si Poetry pun tak bersimpatik pada kesialan
Ia berceletuk 'pemikiran itu jujur terhadap diri kita' manusia
Sayang ya, itu hanya dianggap singgah belaka
Seserius apapun sejarah memahaminya
Si Poetry sadar, perputaran roda itu membosankan
Kitalah yang bermukim di roda itu! Soraknya
Kita menangis, sumringah, dan terdampar
Masa demi masa. Sama
Susah si Poetry berkoar, ia selalu menutup ucapannya 'Kita semua bingung bukan? bernafas sajalah'
Buat apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar