Mengenai Saya

Hi. Saya Riska. Dulu sering dipanggil Ika. Saya seorang manusia yang suka diam saat tau harus berkata apa. Semoga dalam hal menulis tidak turut demikian.

Minggu, 27 September 2020

Pintu pertama

Sumber: Istimewa



Sudah terbiasa tersipu diluar, tak tahu malu pada kandang

Sepertinya itu alamiahnya

Menjalani hidup dengan debar ketidaktahuan

Melihat dan meniru kerumunan yang satu pandang


Ia jengah dan beribadah

bersimpuh pada pengharapan


Ia Mengerinyit dari lamunan disadari

Atsmosfir pandangannya terasa aneh

Ada yang janggal namun menyenangkan

Seolah terbangun dari lelap panjang


Kemudian pandangannya normal kembali

Ditengoknya kakinya yang menapak ubin

Di liriknya jam pada dinding

Detak-jarum membuatnya berdesir


entah apalah itu, Ia terus tersedot pada situasi yang sama

Tanpa bertanya dan mencari tau

Hanya merasakan seorang diri tanpa kegelisahan

Saat ini ia berkata, "inilah ke-aku-an pertamaku"


Dan lagi disadari

Itu pintu ketabjukkannya pertama kali

Ia yang penasaran akan semesta ini

Menjadi manusia kini impian pun keniscayaannya


Sekarang ia di fase pada tepi laut kelam

Dengan ombak curam berdaya tarik

Dibelakanganya utopia misterius

Keputusan berada ditangannya


Ia manusia bebas


Minggu, 20 September 2020

Nasehat teruntuk sang diri

Sumber: Istimewa



Hari ini,
lekas beranjak dari lelap tangismu
ambil senjatamu dan berteriaklah
inilah aku
manusia yang sama-sama bernafas

Petang,
Kamu telah melalui banyak hal
keputusanmu adalah dirimu hari ini
Genggam sajalah perasaan menggugahmu

Esok yang akan,
Amunisi adalah penentumu
Ketakutan bahkan tak pernah ada
dirimu hanya kenyataan, tak ada apa-apa

Untuk apa bingung?
semua bahkan tak sudah-sudah
hanya ada sedang makan, habis makan, dan akan makan

Bagaimana kamu menghadapi semua itu?

Sabtu, 12 September 2020

Tak Dapat Lelap

Sumber: Istimewa



Malam kian dini kawan

Serasa organ dalam ini sedang berorkestra

Tak menyenangkan pada badan

Namun malam sunyi memberi kebebasan jiwa


Apa yang harus dibilang?

Kalong yang menyenangkan tak lantas hal yang baik

Tapi tak bisa

Terus berakhir alibi


Celah malam diredupnya lampu kamar

Menjadi benderang goresan larik amatir

Minggu, 06 September 2020

Lintasan benak

Sumber: Istimewa




   Sesapan Americano yang ku minum barusan masih pekat oleh indra pengecap. ini yang aku suka, seolah rasa uniknya yang pahit mewakilkan perasaan yang karuan oleh gamang, rindu, dan kesepian. sepertinya perutku sedang tak mengindahkan kafein, mungkin karena belakangan aku seduh rutin. 


   Terbayang diriku yang dulu, wah seberapa banyak kah perubahan ku? apakah kentara oleh diluar dari diriku? apakah baru sekedar pola pikirku? sejak dulu aku mengagumi visual dalam benak, bahasa kasarnya berkhayal. makin dewasa aku memperbaiki pola pikir yang akan mengancam nalar, itulah mengapa aku menyukai buku, film, untuk merefleksikan diri. karena hidup yang hanya mengikuti arus terasa mimpi buruk.


   aku menghargai diriku sendiri oleh pikiranku sendiri. pikiranku memang tidak selalu benar, dan tak jarang salah telak. untuk melalui itu semua pengalaman menjadi prioritas. pengalaman tidak bisa hanya berdiam diri, merenung, membaca buku, menonton film. hal itu menyangkut segala aspek. kehidupan itu hitam dan putih, bukan berarti hidup itu kelam dan cerah, namun tentang filosofis timbal-balik. Seperti manusia yang mengagungkan kebahagian. aku tak ingin terdoktrin oleh buaian kebahagian, aku harus memahami juga hal sebaliknya ke-tidakmenyenangkan-an yang berupa kesedihan, ketakutan, kesepian, supaya pemahaman atas pengalaman menjadi seimbang, menjadi balence. Demi memanusiakan diri sendiri. Aku tidak seharusnya beg---


    "La! Lana! nyawamu masih di sini kan?" sebuah tamparan dilengan membuatku tersintak. Menarik ke eksistensi diriku yang sebenernya. Aku hanya bisa menarik garis senyum menyebalkan milikku. "Eh maaf Ran, otakku blank tadi hihi".


   Lawan bicaraku kebingungan dengan reaksiku beberapa saat. Kemungkinan Ia berfikir aku marah tadinya saat ku diamkan. Aku bahkan lupa berapa lama membuat Ranti terabaikan sambil berbicara seorang diri. 


   Selalu saja begini. Aku tidak berdaya untuk membuat orang memahami. Aku terlalu bergairah untuk mengisi bilik-bilik refleksi yang tak berkesudahan. Sampai aku lupa hidup itu adalah praktis, hidup juga tindakan. Manusia yang punya keniscayaan atas sosial di sekitarku. 

    

   Aku sedih tak bisa menjelaskan ke Ranti atas lintasan benakku. Yang ku fikirkan adalah kemungkinan aku akan tidak diterima karena menyusahkan hidup orang lain. Bagiku diriku ini waras, tidak tahu apakah orang lain setuju itu. 


   Mudah hanya untuk sekedar hidup. Aku hanya perlu melihat dan memahami. Seperti sekarang, aku dengan bijaknya menjawab keluhan-keluhan pribadi yang Ranti ucapkan. Ku beri wejangan yang pas. Membuatnya lebih senang dan tenang. Ia tampak tersenyum dan bersyukur. Berbeda denganku, aku tersenyum rata dan merasa munafik. 


   "Ranti aku bayar minuman kita dulu ya!" ujarku tanpa menunggu jawaban. Bahkan langkah kakuku menuju kasir sudah memuat sepersekian persen otakku teralihkan pada lamunan. Aku merasa biasa saja.

   

💌