Mengenai Saya

Hi. Saya Riska. Dulu sering dipanggil Ika. Saya seorang manusia yang suka diam saat tau harus berkata apa. Semoga dalam hal menulis tidak turut demikian.

Minggu, 10 Januari 2021

Hujan dan kesendirian

Hujan dan Kesendirian


Rinai
Hujaman tetes demi tetes air mata dari awan kelabu
Aku sendiri dan berdiam diri
Bau tanah bersamaan bangkitnya memoar lalu, bersamamu

Pada seragam yang basah kuyup
Aku lengah, mengapa tak ku liat binar matamu
Pada kamarmu yang sepi
Kamu katakan hujan itu menakutimu, mencabik kesepianmu

Sekolah menengah atas, kita sepakat
Kita adalah ruang kosong yang saling mengisi
Ruang kita yang penuh gema
Saling mengisi harmoni dengan berbagi empati

Tanpa diduga raga kita terpisah beratus kilometer
Kamu bilang menemukan buku, dan kamu terpana
Kemudian ku ceritakan keseharianku bersama bukumu
Kau pun demikian, seolah mengganti kebersamaan yang entah kemana

Waktu buat kita lupa, lantas sibuk
Sudah setengah dekade
Aku masih menulis bukumu selagi sempat dan ingat
Aku masih ingat kamu takut hujan, dan aku sekedar mengiyakan

*Puisi diatas sudah pernah di perlombakan dalam lomba cipta Puisi HKSN LKS-BMh, tema: Kesetiakawanan


Sabtu, 12 Desember 2020

Pujangga Tanpa Rasa

Sia-sia

Percuma

Tiada Malu

Tiada Ambisi


Elok nian Sang Pujangga

Mendayukan diksi indahnya

Buat siapa saja terseret jiwa rasa

Lantas Kakak berseru lantang, serupa dia adalah impian


Mana puisi kakak?

Ia marah dan menjerit

Menatap nanar lagi jerih

Kemudian tergelak sendu


Katanya, 'tiada puisi dalam diriku

Sepengap apapun keseharianku

Sedingin serta muramnya kesepianku

Bahkan mataku tiada makna'


Dia terseok menuju nyamannya

Bahagianya adalah tanpa ambisi

Ia sumbat dirinya dari bising dan hening

Bagaimana caraku memahaminya?


Kak...

Bayang kita terlalu persis

Apakah memang itu aku?

Kamis, 10 Desember 2020

Puisi yang dibenar-benarkan

Namanya Poetry

Layaknya pengkaburan netra

Si Poetry gemar menjadi bias

Berada ditengah perkara 'iya' dan 'tidak'


Kerap disamakan Ia dengan ambigu,

Ia cibir orang itu

Lantas matanya berbinar,

Kepada yang tabu akan dirinya


Ia sadar hidup ini asing

Lantas suatu kewajaran untuk akrab

Orang bilang kita makhluk istimewa

Si Poetry pun tak bersimpatik pada kesialan


Ia berceletuk 'pemikiran itu jujur terhadap diri kita' manusia

Sayang ya, itu hanya dianggap singgah belaka

Seserius apapun sejarah memahaminya

Si Poetry sadar, perputaran roda itu membosankan


Kitalah yang bermukim di roda itu! Soraknya

Kita menangis, sumringah, dan terdampar

Masa demi masa. Sama

Susah si Poetry berkoar, ia selalu menutup ucapannya 'Kita semua bingung bukan? bernafas sajalah'


Buat apa.

Minggu, 01 November 2020

Pengar

PENGAR

Sumber: Istimewa













Kupicingkan mata ini berulang

Terang lampu telah beralih pada bingkai jendela

Otakku tenang sembari mengingat mimpi semalam

Sepertinya berarti kerinduan


Kebas sudah ragaku oleh rehat nan tak sehat

Kepalaku sedikit pusing

Seduhan semalamku dengan wedang nan hangat

Lucunya terasa bangkit dari seduhan arak 


Telah ku teguk ludah dalam tenggorokkanku

Frustasiku tak lenyap

Sayup-sayup ku dengar lirik

"Kalau sudah begini, harus bagaimana?"


Aku tak bisa membatukan diri

Beranjak dari nyamanku, ku sentuh air pada wajahku

Detik tiada hentinya berdetik

Hanya diriku yang bisa diandalkan


Aku Ingin Lenyap

 
sumber: Istimewa


 Aku ingin lenyap


Kau tanya kenapa aku ini, aku tak tau

Keengganan tunggal yang terasa

Mata kaburku kembali sadar dari ingatan alam bawah sadar

Pertanyaan lagi, tapi itu dari batinku, kenapa aku ini?


Mereka berkata aku ini manusia

Manusia punya fikiran dan kehendak

Harus jauh dari fikiran sesat dan keliru

Sedang ku tengok bilik diriku, bahkan tak yakin akan manusiaku ini


Kita tiada pernah diminta hadir

Lantas kudapati ragaku bernafas pada ingatan pertamaku

Yang entah kapan itu

Aku tertampar pada manusiawiku yang tidak sewajar dengan mereka


Hidupku akan beranjak dua dekade

Aku ini apa, jika tak ingin benar-benar ada

Aku beranjak pada sudut kamar

Nyaman


Aku bingung

kemudian dengan kesia-siaan

Lalu terlelap lagi

halo bunga tidurku,

Minggu, 27 September 2020

Pintu pertama

Sumber: Istimewa



Sudah terbiasa tersipu diluar, tak tahu malu pada kandang

Sepertinya itu alamiahnya

Menjalani hidup dengan debar ketidaktahuan

Melihat dan meniru kerumunan yang satu pandang


Ia jengah dan beribadah

bersimpuh pada pengharapan


Ia Mengerinyit dari lamunan disadari

Atsmosfir pandangannya terasa aneh

Ada yang janggal namun menyenangkan

Seolah terbangun dari lelap panjang


Kemudian pandangannya normal kembali

Ditengoknya kakinya yang menapak ubin

Di liriknya jam pada dinding

Detak-jarum membuatnya berdesir


entah apalah itu, Ia terus tersedot pada situasi yang sama

Tanpa bertanya dan mencari tau

Hanya merasakan seorang diri tanpa kegelisahan

Saat ini ia berkata, "inilah ke-aku-an pertamaku"


Dan lagi disadari

Itu pintu ketabjukkannya pertama kali

Ia yang penasaran akan semesta ini

Menjadi manusia kini impian pun keniscayaannya


Sekarang ia di fase pada tepi laut kelam

Dengan ombak curam berdaya tarik

Dibelakanganya utopia misterius

Keputusan berada ditangannya


Ia manusia bebas


Minggu, 20 September 2020

Nasehat teruntuk sang diri

Sumber: Istimewa



Hari ini,
lekas beranjak dari lelap tangismu
ambil senjatamu dan berteriaklah
inilah aku
manusia yang sama-sama bernafas

Petang,
Kamu telah melalui banyak hal
keputusanmu adalah dirimu hari ini
Genggam sajalah perasaan menggugahmu

Esok yang akan,
Amunisi adalah penentumu
Ketakutan bahkan tak pernah ada
dirimu hanya kenyataan, tak ada apa-apa

Untuk apa bingung?
semua bahkan tak sudah-sudah
hanya ada sedang makan, habis makan, dan akan makan

Bagaimana kamu menghadapi semua itu?